Squishy Stress Ball

This is the last part for the “doki-doki” series. You can check out the first two parts here (for something delicious) and here (for drawing inspiration).

Ini bagian terakhir untuk seri “doki-doki”. Anda dapat melihat 2 postingan lainnya di sini (untuk resep) dan sini (untuk ilustrasi).

When the theme “doki-doki” was announced, I didn’t have the slightest bloody idea of what I wanted to make (just in case you are not familiar with the term, it’s a Japanese mimetic word for “pounding heart”). As cliché as it can be, I was about to jump right into the “heart-shape everything craft” wagon if I couldn’t come up with anything by the deadline. Then out of the blue, I remembered my mom was looking for a squishy ball for her fingers therapy and yeap, I accidentally found the connecting dots between a squishy stress ball and a relief to the irregular heart-pounding caused by nervousness or anxiety. Let’s get started!

Jujur saja, waktu tema “doki-doki” diputuskan, saya ngga punya ide sama sekali apa yang harus dibuat (sekedar info untuk yang tidak familiar dengan kosakata dari bahasa Jepang ini, simpelnya, doki-doki itu berarti deg-degan). Yang langsung terpikir di kepala sih, craft yang bertema love, love gitu (tapi takut dibilang salah timing, rayain September Valentine sendiri). Trus, tiba-tiba aja teringat ibu tercinta lagi nyari-nyari bola karet untuk terapi jari-jari tangan yang kebetulan juga sering dipakai sebagai alat pereda stres. Yuk, dicoba!

We will need 2 latex balloons, some flour, a funnel and a pair of scissors.

Kita akan memerlukan 2 balon karet, tepung, corong, dan gunting.

Secure the opening of the balloon to the bottom of the funnel.

Pasang kencang mulut balon ke corong.

Fill the funnel with flour. The balloon will get full quickly but you can use a long slender stick (like chopstick) to help push the flour down and inflate the balloon more if you want larger ball.

Isi corong dengan tepung. Balon akan segera penuh tapi anda bisa menggunakan sumpit atau pulpen untuk membantu mendorong tepung ke bawah dan balon akan semakin mengembang.

When you are happy with the size, tie a knot at the end (I filled it with more flour later as I felt the one above wasn’t full and squishy enough).

Ikat ujungnya dengan simpul setelah anda puas dengan ukurannya (saya kemudian mengisi tepung lebih banyak lagi karena ukurang bola di atas terasa kurang penuh).

Take the other balloon and cut the long mouth off.

Ambil balon yang satunya lagi dan potong mulutnya.

Insert the balloon with flour into the newly cut balloon, knot facing in, to strengthen the protection. If you mind the cut’s opening, you can cover it with a fancy sticker or anything. For now, I’ll leave it like this.

Masukkan balon dengan tepung ke dalam balon yang baru dipotong tadi, dengan ikatan simpul menghadap ke dalam untuk memperkuat ikatan. Anda bisa menutupi lubang guntingan dengan stiker atau semacamnya. Untuk sekarang, saya akan membiarkan apa adanya.

As I meant this for a stress reliever, I thought about writing some pick-me-up quotes on it (I imagined striking calligraphy but have to be happy with this for now). FYI, that’s not really a typo, it’s just the way I thought how an ‘okay’ is written in English when I was a kid and stubbornly not wanting to change it (consider it intentional typo).

Saya menulis kata-kata motivasi di atasnya karena pada dasarnya bola ini digunakan sebagai penghilang stres (yang jago menulis indah boleh ditunjukin kemampuannya di sini).

Thank you for reading. If you have any questions, please feel free to write on the comment box below or just shoot us an email (fromscratchindonesia@gmail.com). Hope to see you again soon and do believe that everything will be okei in the end! Cheers!

The “doki-doki” series: